DUBAI-PULUHAN desainer dari berbagai negara memamerkan bakatnya pada Arabia Fashion Week di Dubai, Uni Emirat Arab, 4-6 November yang lalu. Koleksi mereka adalah abaya-abaya arabia dalam bentuk gaun malam yang beragam, aneka pakaian siap pakai, serta gaun-gaun pengantin yang mewah.
Hari pertama, acara dibuka dengan peragaan busana karya Akl Fakih, desainer terkemuka asal Lebanon. Rancangan Fakih memadukan beragam potongan dan pola kontemporer sambil tetap mempertahankan kesan klasik serta nuansa vintage. Peragaan berikutnya menampilkan karya Djemila, seorang perancang Prancis yang punya konsentrasi besar terhadap kesenian Arab. Menyusul koleksi-koleksi Red Flower yang mengeksplorasi keanggunan abaya. Permainan detail motif dan aksen bunga aneka warna merupakan kekuatan abaya-abaya Red Flower.

Lalu, giliran koleksi Aguilera Couture ditampilkan. Busana Aguilera Couture disebut-sebut sebagai the new age abayas. Berkesan funky, abaya Aguilera Couture dirancang terutama untuk selera para belia dan gadis-gadis muda yang fashionable. Warna-warna cerah yang digunakan dalam desain-desainnya merefleksikan semangat pencarian kelompok umur itu. Teknik lukis dan rangkaian manik bebatuan menghasilkan motif-motif khas pada abaya-abaya Aguilera.

Peragaan terakhir hari pertama menampilkan karya Hilda Maha, desainer asal Italia, dan karya Al Yashmac, desainer Arab Saudi. Hilda mempersembahkan koleksi busana ready-to-wear yang colourful. Gaun-gaun Hilda merujuk kepada selera perempuan muda yang dinamis dan mencintai warna-warna cerah. Sementara, menutup peragaan hari pertama, Al Yashmac memperlihatkan kebermungkinan fashion Islam yang kaya: abaya dan jallabiya bercita rasa tinggi dengan permainan warna dan potongan yang intens.
Hari kedua Arabia Fashion Week dibuka dengan peragaan-peragaan dari desainer muda dunia yang penuh bakat, seperti dari IED Barcelona dan Universitas Preston, Ajman. Dengan jaket dan atasan berwarna gelap, bersahaja, tapi bernada chic yang kental, PrĂȘt-a-Porter dari IED Barcelona menghadirkan koleksi musim dinginnya. Desainer lain, Sarah Gandapur, dari Pakistan, menampilkan koleksi busana siap pakai. Sarah memainkan bordir dan meleburkan aneka desain pada karya-karyanya, menghadirkan kebaruan-kebaruan fashion yang segar. Lalu, Jyoti Sharma membuat debut komersialnya dengan label Bahnuni.
Jad Ghandour, desainer belia berusia 22 tahun, menampilkan koleksi bervisi feminitas yang luar biasa khas. Karyanya mengombinasikan gaya oriental yang elegan dan kelincahan bentuk dari budaya barat. Peragaan koleksi Jad dipungkas oleh sebuah busana penuh cerita: gaun pengantin berwarna putih yang cocok untuk seorang ratu.
Ahmed Al Reyaysa, desainer lokal Dubai, menutup hari kedua itu dengan beragam koleksi eveningwear-nya dan gaun-gaun pernikahan yang klasik. Gemuruh tepuk tangan menyambut tampilan akhir hari itu: gaun tradisional Arab yang indah dan mewah dalam warna-warna bendera Uni Emirat Arab karya Ahmed Al Reyaysa.
Peragaan karya-karya busana ready-to-wear desainer Alicja Czarniecka, Marco Marcu, dan Ekaterina Kulikova membuka hari terakhir Arabia Fashion Week. Menyusul suguhan memesona dari koleksi Etxart & Panno, yang diikuti oleh Orkais dan Faisal Khan dari India. Desainer kakak beradik Nadal dan Zihar memakai bahan tenunan yang sensual. Kombinasi renda grafis modern, bordir, dan material batu pada lapisan kain menghadirkan kesan glamor pada busana-busana berwarna cerah.
Hari pamungkas itu, Arabia Fashion Week memang berayun dalam kekuatan penuh. Koleksi couture yang mendebarkan hati ditampilkan oleh desainer Asyla. Lapisan-lapisan lembut abaya Asyla menggabungkan sentuhan barat yang canggih dengan nada-nada multi-dimensinya yang futuristik. Kreasi impresif Asyla sejalan dengan cita rasa masyarakat tradisional, berikut imaji uniknya tentang Putri Arab, yang menemukan kesesuaiannya dengan semangat modern hari ini.**
wil | berbagai sumber | foto: monstersandcritics.com
Share on Facebook