Keindahan, kehalusan, keanggunan, fashion yang tak lekang oleh waktu. Itulah sutra. Kain yang berabad-abad menyandang reputasi tekstil mewah dan sensual, yang diasosiasikan dengan kekayaan dan kesuksesan.
Benang sutra sendiri adalah bahan tekstil tertua dalam sejarah umat manusia. Bangsa Cina berabad-abad sebelum Masehi telah menggunakannya. Di Yunani dan Romawi sutra merupakan komoditas bernilai tinggi. Sutra setara dengan emas dalam ukuran berat pada masa jaya kekaisaran Romawi.
Karena kenyamanan, keluwesan, keawetannya, sampai sekarang busana berbahan sutra tetap dinilai tinggi. Sutra halus sekaligus kuat. Silk, atau soie dalam bahasa Prancis. Bahkan konon kawat baja ternyata lebih rapuh ketimbang benang sutra yang berdiameter sama.
Berkat daya serapnya yang tinggi, sutra mudah dicelup dalam aneka warna. Tekstil sutra tak berubah bentuk, bagus jatuhnya di tubuh, dan memberi efek cahaya. Sutra bisa digunakan untuk berbagai busana, dari gaun malam hingga pakaian olahraga.
Setelan berbahan sutra cocok dikenakan ke kantor. Dengan penambahan atau penggantian aksesori, sebuah blus sutera segera berubah rupa dan pantas dipakai di acara dinner di restoran mahal.
Sutra juga bisa digunakan dalam segala cuaca. Karena bersifat menyerap keringat, sutra terasa sejuk dikenakan dalam cuaca panas. Serta karena sifatnya yang dapat menahan udara panas di dekat kulit dan sutera juga hangat dipakai dalam cuaca dingin.
Sutra adalah fiber protein alami. Beberapa jenis fiber ini bisa ditenun menjadi tekstil. Tipe sutra yang paling banyak dikenal berasal dari kepompong ulat sutra pohon mulberry yang bernama bombyx mori. Kilau yang merupakan ciri khas sutra berasal dari struktur fibernya yang segitiga seperti prisma dan berpermukaan halus licin. Memungkinkan sutra memantulkan cahaya dari sudut pandang berbeda.
Sutra pertama kali dikembangkan di Cina sekitar tahun 6000 SM. Menurut legenda, semua itu berkat jasa permaisuri Xi Ling-Shi, istri Yellow Emperor yang memerintah Cina pada 3000SM. Konon sewaktu permaisuri sedang menikmati teh di bawah pohon, tiba-tiba terjatuhlah sebuah kepompong ulat dan tepat jatuh ke dalam teh, karena teh tersebut panas, maka kepompong tadi langsung terurai seratnya, hal ini membuat permaisuri penasaran dan mencari tahu sampai akhirnya permaisuri menciptakan pembudidayaan ulat sutra dan menciptakan alat tenun sutra. Atas perannya ini Xi Ling dijuluki Dewi Sutra.
Banyak penemuan-penemuan membuktikan sejarah panjang sutra di Cina. Seperti penemuan di sungai Yangzi, berupa sebuah cangkir gading berukiran ulat sutra dan diperkirakan berusia 6000-7000 tahun.
Juga penemuan lain tentang teknik penenunan sutra canggih pada masa Dinasti Han (202 SM – 220 SM). Pada Juli 2007, para ahli arkeologi menemukan tekstil yang ditenun dengan teknik rumit dan dicelup aneka warna di sebuah kuburan kuno di propinsi Jingxi. Penemuan ini diperkirakan berasal dari dinasti Zhou dan berumur 2500 tahun. Dan serta merta menggugurkan teori bahwa teknik tersebut ditemukan pada Dinasti Han.
Memang pada Dinasti Han, sutra berkembang sedemikian rupa hingga memiliki nilai tukar tersendiri. Para petani membayar pajak dengan beras dan sutra. Pegawai negeri mendapat ‘bonus’ sutra bila berprestasi. Nilai dan harga komoditas diukur dengan panjangnya sutra. Sutra bahkan menjadi ‘mata uang’ bangsa Cina dalam perdagangan dengan negeri asing.
Bangsa Cina merahasiakan pengetahuan sericulture (pembudidayaan sutra) dari bangsa-bangsa lain selama lebih dari dua ribu tahun. Tapi seiring berjalannya waktu, teknik sericulture menyebar juga. Baik seara geografis maupun sosial, ke banyak negara Asia.
Sericulture sampai ke Korea sekitar tahun 200 SM, juga ke India pada tahun 300 SM. Sutra menjadi tekstil mewah di banyak tempat yang bisa diakses oleh saudagar-saudagar Cina.
